Suara dari Perbatasan: Warga Prey Chan Bertahan di Tengah Bayang-Bayang Konflik

Suara dari Perbatasan: Warga Prey Chan Bertahan di Tengah Bayang-Bayang KonflikFoto :

BANTEAY MEANCHEY, Kamboja – Di sebuah kuil Buddha sederhana, sekitar 30 kilometer dari garis perbatasan, ratusan warga Desa Prey Chan kini berdesakan mencari perlindungan. Mereka baru saja meninggalkan rumah, ladang, dan hewan ternak setelah suara tembakan memecah keheningan desa pada Rabu (12/11).  

Bagi mereka, konflik perbatasan Thailand–Kamboja bukan sekadar berita di televisi atau pernyataan diplomatik para pemimpin. Ini adalah kenyataan pahit yang merenggut rasa aman, memaksa anak-anak tidur di lantai kuil, dan membuat orang tua menatap kosong ke arah masa depan yang tak pasti.

  • Evakuasi mendadak : Warga Prey Chan harus meninggalkan rumah hanya dengan barang seadanya. Banyak yang hanya membawa pakaian di tubuh dan sedikit makanan.  
  • Anak-anak ketakutan: Tangisan anak kecil terdengar sepanjang malam, sebagian masih trauma mendengar dentuman senjata.  
  • Lahan terbengkalai : Petani kehilangan musim tanam, sementara ternak dibiarkan tanpa perawatan.  

Seorang ibu bernama Srey Mom, 34 tahun, menceritakan bagaimana ia berlari bersama dua anaknya ketika aparat desa meminta semua warga segera mengungsi. “Kami tidak tahu apakah rumah kami masih utuh. Yang penting anak-anak selamat,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Konflik kali ini menelan korban jiwa: seorang warga Kamboja tewas, tiga lainnya terluka. Namun luka yang lebih dalam justru dirasakan oleh mereka yang selamat.  

Seorang biksu di kuil tempat pengungsian mengatakan, “Orang-orang datang dengan wajah penuh ketakutan. Mereka tidak hanya kehilangan rumah, tetapi juga rasa percaya bahwa besok akan aman.”  

Kondisi pengungsian serba terbatas. Air bersih harus dibagi, makanan datang dari sumbangan warga desa lain, dan ruang tidur hanya berupa tikar tipis di lantai kuil. Meski begitu, solidaritas antarwarga menjadi penguat. Mereka saling berbagi makanan, menjaga anak-anak, dan berdoa bersama agar konflik segera berakhir.

Sementara di Kuala Lumpur, Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menawarkan perundingan damai baru, warga di Prey Chan hanya berharap satu hal: bisa kembali ke rumah dengan aman.  

Bagi mereka, istilah “Perjanjian Damai Kuala Lumpur” atau “gencatan senjata” terdengar abstrak. Yang nyata adalah suara tembakan, ranjau yang meledak, dan perjalanan panjang menuju kuil pengungsian.  

“Kalau ada perdamaian, kami ingin pulang. Kami ingin menanam padi lagi,” kata Sokha, seorang petani berusia 50 tahun. “Kami tidak peduli siapa yang salah. Kami hanya ingin hidup tenang.”

Konflik perbatasan Thailand–Kamboja telah berulang kali menciptakan gelombang pengungsian. Namun kisah warga Prey Chan menunjukkan bahwa di balik angka statistik, ada manusia dengan mimpi sederhana: rumah yang aman, ladang yang subur, dan anak-anak yang bisa sekolah tanpa rasa takut.  

Malaysia kini mencoba membuka jalan damai baru. Tetapi bagi warga sipil, perdamaian bukan sekadar pertemuan diplomatik. Perdamaian berarti bisa kembali ke rumah, menyalakan tungku dapur, dan tidur tanpa mimpi buruk tentang senjata dan ranjau.  

Di kuil Buddha yang kini menjadi rumah sementara, doa-doa terus dipanjatkan. Bagi warga Prey Chan, doa itu sederhana: agar suara senjata berhenti, agar jalan pulang terbuka, dan agar kehidupan bisa kembali seperti semula.