Lonjakan Desersi di Ukraina Capai Rekor Tertinggi, Pemerintah Perketat Wajib Militer

Lonjakan Desersi di Ukraina Capai Rekor Tertinggi, Pemerintah Perketat Wajib MiliterFoto :

Kyiv, Ukraina — Di tengah eskalasi konflik dengan Rusia, Ukraina menghadapi tantangan serius dalam mempertahankan kekuatan militernya. Lebih dari 21.000 tentara dilaporkan melakukan desersi atau meninggalkan tugas tanpa izin selama Oktober 2025, menjadikannya angka tertinggi dalam satu bulan sejak perang dimulai empat tahun lalu.

Data tersebut diungkap oleh BBC Ukraine pada Sabtu (8/11), mengutip laporan resmi dari Kejaksaan Agung Ukraina. Mantan anggota parlemen yang kini bertugas di militer, Igor Lutsenko, menyebut angka itu sebagai "rekor yang sangat buruk" dan memperingatkan bahwa jumlah sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi.

"Ini hanya data resmi. Kenyataannya, banyak kasus desersi yang tidak tercatat," tulis Lutsenko di Facebook. "Pasukan di garis depan berada di bawah tekanan luar biasa, dengan beban ganda bahkan tiga kali lipat menimpa mereka yang masih bertahan."

Lutsenko juga menyebut bahwa kekosongan personel telah menciptakan "lubang besar" dalam pertahanan Ukraina di garis depan.

Sebagai respons terhadap krisis ini, pemerintah Ukraina meningkatkan kampanye wajib militer dalam beberapa bulan terakhir. Namun, langkah tersebut memicu lonjakan keluhan dari warga. Komisaris Hak Asasi Manusia Parlemen Ukraina, Dmitry Lubinets, mengungkapkan bahwa jumlah pengaduan terkait wajib militer sejak Juni meningkat dua kali lipat dibandingkan lima bulan pertama tahun ini.

Situasi semakin memanas dengan beredarnya video yang menunjukkan petugas militer menyergap pria usia wajib militer di jalanan dan memaksa mereka masuk ke dalam kendaraan van. Aksi ini, yang dijuluki "busifikasi", memicu ketidakpuasan luas di masyarakat.

Menanggapi kontroversi tersebut, Ketua Komite Kebijakan Kemanusiaan dan Informasi Parlemen Ukraina, Mykyta Poturaiev, menyatakan bahwa sebagian video yang beredar kemungkinan palsu atau dibuat menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI). Pada awal Oktober, otoritas militer Ukraina meminta warga untuk berhenti merekam dan menyebarkan video penangkapan calon rekrutan.

Lonjakan desersi dan meningkatnya ketegangan sosial menjadi tantangan besar bagi Kyiv dalam mempertahankan stabilitas militer dan dukungan publik di tengah konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.