TARAKAN – Universitas Borneo Tarakan (UBT) kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga ekosistem pesisir melalui kegiatan Aksi Restorasi Pesisir Pantai Amal, Hari Kamis Tanggal 20 November 2025. Kegiatan ini melibatkan sekitar 135 peserta, terdiri dari mahasiswa, dosen dan masyarakat sekitar pantai Amal, yang bersama-sama melakukan penanaman mangrove sebagai langkah nyata memulihkan fungsi alam dan mencegah kerusakan lingkungan di kawasan pesisir kota Tarakan.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Teknik UBT, di bawah koordinasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) melalui program Pemberdayaan Masyarakat (PM BEM). Ketua pelaksana kegiatan, Hasrullah, S.T., M.T, menjelaskan bahwa aksi ini menjadi bagian penting dalam upaya kampus menghadapi dampak perubahan iklim sekaligus meningkatkan kepedulian lingkungan bagi para mahasiswa.
"Kami juga menyampaikan terima kasih dan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia melalui skema Program Mahasiswa Berdampak: Pemberdayaan Masyarakat oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Tahun 2025, atas dukungan pendanaan yang telah diberikan sehingga kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dapat terlaksana dengan baik. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Borneo Tarakan atas fasilitasi, dukungan administrasi, serta koordinasi yang telah diberikan sehingga kegiatan ini dapat berjalan lancar." lanjutnya.
Pemulihan Fungsi Alami Pesisir Jadi Fokus Utama
Dalam wawancara yang dilakukan oleh tim Zamantara.id, Hasrullah menegaskan bahwa tujuan utama dari aksi restorasi ini adalah mengembalikan fungsi ekologis pesisir yang mulai mengalami degradasi.
“Restorasi ini fokusnya perbaikan fungsi alam yang rusak akibat aktivitas manusia dan perubahan iklim. Kami ingin mengembalikan greenbelt alami, mencegah abrasi, dan menyediakan habitat perikanan,” jelasnya.
Menurutnya, hutan mangrove bukan sekadar benteng alami yang melindungi daratan dari gelombang besar dan ancaman abrasi, tetapi juga memiliki fungsi penting dalam mitigasi perubahan iklim karena kemampuannya menyerap karbon dalam jumlah besar.
Konsep “revolusi biru” atau blue revolution yang tengah gencar dibahas dalam isu lingkungan global turut menjadi landasan kegiatan ini.
“Selain untuk penyerapan karbon, kegiatan ini juga bagian dari revolusi biru—upaya memulihkan ekosistem laut dan pesisir secara berkelanjutan,” tambahnya.

Seribu Bibit Mangrove, Tiga Jenis Utama Ditaman di Pantai Amal
Dalam aksi ini, UBT menanam sekitar 1.000 bibit mangrove. Bibit tersebut terdiri dari tiga jenis utama yang umumnya tumbuh di wilayah pesisir dan dikenal kuat melindungi pantai dari erosi.
Hasrullah menjelaskan, “Jenis mangrove yang kami tanam hari ini itu ada tiga: isopora (bakau), api-api, dan pedada atau soneratia. Ini semua adalah tanaman asli pesisir yang berfungsi sebagai pelindung pantai dari abrasi dan ombak besar.”
Ia juga menyebut bahwa selain bibit yang disediakan panitia, sejumlah komunitas masyarakat membawa bibit tambahan untuk ikut ditanam bersama.
Selain meningkatkan jumlah vegetasi pesisir, keragaman jenis mangrove yang ditanam diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang lebih stabil dan mendukung kehidupan biota laut.
Kolaborasi dengan Mahasiswa, Dosen, dan Komunitas Lokal
Gerakan restorasi pesisir Pantai Amal ini tidak hanya dilakukan oleh mahasiswa Fakultas Teknik, tetapi juga melibatkan:
-
Dosen UBT
-
Mahasiswa lintas angkatan (2023–2024)
-
Komunitas dan masyarakat sekitar pesisir
“Kegiatan ini kami bawa atas nama Fakultas Teknik, tetapi dukungannya datang dari berbagai pihak. Banyak mahasiswa dari angkatan 2023 dan 2024 yang ikut bergabung. Komunitas lokal juga ikut serta, membawa bibit dan membantu proses penanaman,” ungkap Hasrullah.
Keterlibatan komunitas lokal menjadi salah satu aspek penting, mengingat masyarakat pesisir adalah pihak yang paling merasakan dampak kerusakan ekosistem dan juga yang akan merasakan manfaat langsung dari restorasi lingkungan.

Tantangan: Zonasi, Abrasi, dan Kondisi Alam yang Tidak Stabil
Meski kegiatan restorasi dilakukan secara berkelanjutan di berbagai titik pesisir Tarakan, proses rehabilitasi mangrove tidak selalu berjalan mulus.
Menurut Hasrullah, tantangan terbesar dalam penanaman mangrove biasanya berkaitan dengan zonasi yang tidak tepat. Kesalahan menempatkan jenis tanaman di area yang tidak sesuai bisa menyebabkan bibit gagal tumbuh.
“Kesalahan zonasi itu umum terjadi. Karena itu kami pilih tiga jenis mangrove yang memang sesuai dengan kondisi Pantai Amal,” jelasnya.
Tantangan lainnya meliputi:
1. Abrasi dan Gelombang Kencang
Gelombang laut yang kuat sering mencabut bibit sebelum akarnya tumbuh kokoh. Hal ini membuat sebagian bibit perlu diganti secara berkala.
2. Tingkat Salinitas
Kadar garam yang terlalu tinggi atau terlalu rendah dapat memengaruhi keberhasilan pertumbuhan mangrove.
3. Sedimentasi
Pantai Amal memiliki karakter pasir yang tebal, sehingga memengaruhi kestabilan akar tanaman mangrove muda.
4. Serangan Hama
Hewan predator kecil kerap memakan tunas atau akar mangrove yang masih muda, menyebabkan kegagalan tumbuh.
Karena itu, pemantauan rutin setelah penanaman menjadi kunci keberhasilan restorasi.
Harapan: Pesisir Amal Pulih dan Menjadi Ruang Edukasi Lingkungan Berkelanjutan
Melalui aksi ini, Universitas Borneo Tarakan berharap kawasan Pantai Amal dapat pulih secara bertahap dan kembali berfungsi sebagai sabuk hijau alami yang melindungi pesisir dari ancaman abrasi sekaligus menjadi habitat penting bagi ekosistem laut.
Kegiatan restorasi seperti ini juga menjadi ruang edukasi ekologis bagi mahasiswa, memperkenalkan mereka pada tantangan nyata perubahan iklim dan pentingnya konservasi lingkungan.
“Harapannya, mahasiswa bisa melihat langsung bagaimana proses pemulihan alam berjalan, dan mereka bisa menjadi bagian dari solusi,” ujar Hasrullah.
UBT berkomitmen melanjutkan program restorasi pesisir ini sebagai kegiatan rutin tahunan, dengan skala penanaman yang lebih besar dan kolaborasi yang lebih luas.






5.jpg)
.png)









Komentar
Tuliskan Komentar Anda!