Jakarta — Setelah lebih dari dua dekade menancapkan akar bisnisnya di Tiongkok, Starbucks mengambil langkah berani: menyerahkan kendali operasional kepada perusahaan investasi lokal, Boyu Capital. Nilai transaksinya fantastis—mencapai US$4 miliar atau sekitar Rp66 triliun.
Kesepakatan ini bukan sekadar jual beli saham. Starbucks dan Boyu sepakat membentuk usaha patungan untuk mengelola sekitar 8.000 gerai di seluruh China. Dalam struktur baru, Boyu akan memegang hingga 60% saham, sementara Starbucks tetap mempertahankan 40% sebagai bentuk komitmen terhadap pasar yang telah menjadi rumah kedua bagi merek global ini.
CEO Starbucks, Brian Niccol, menyebut langkah ini sebagai strategi untuk mempercepat ekspansi ke kota-kota kecil dan wilayah baru. “Keahlian lokal Boyu akan menjadi bahan bakar pertumbuhan kami di Tiongkok,” ujarnya, dikutip dari AFP.
Langkah ini mencerminkan dinamika baru dalam lanskap bisnis global: merek internasional mulai menyadari bahwa untuk bertahan dan berkembang, mereka harus berkolaborasi dengan kekuatan lokal. Apalagi, persaingan di pasar kopi China semakin sengit, dengan pemain seperti Luckin Coffee yang agresif menawarkan harga terjangkau dan inovasi menu yang digemari generasi muda.
Starbucks memproyeksikan nilai bisnis ritelnya di China akan menembus US$13 miliar dalam satu dekade ke depan. Kantor pusat operasional tetap berada di Shanghai, dan target ekspansi pun ambisius: hingga 20.000 gerai. Kesepakatan ini dijadwalkan rampung pada kuartal kedua tahun fiskal 2026, menunggu lampu hijau dari regulator.

5.jpg)
.png)









Komentar
Tuliskan Komentar Anda!